Entri Populer

Selasa, 12 April 2011

Sistem Pendidikan Kuttab


Kata Pengantar
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين الذى وقق من شاء من عباده لسلوك الطريق المستقيم. أحمده سبحانه واشكره على سوابغ نعمه واشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له وان محمدا عبده ورسوله الدّاعى الى كل خير والمخذر من شرّ. اللهم صلى وسلّم على عبدك ورسولك محمّد وعلى اله وصحبه أجمعين.

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Hakekat dan Makna Sistem Pendidikan Kuttab”
Penulisan makalah adalah merupakan salah satu tugas mandiri dan persyaratan untuk menyelesaikan Mata Kuliah Ilmu Pendidikan Islam I di Institut PTIQ Jakarta.
Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan penelitian ini, khususnya kepada :
  1. Bapak Nur kholis Madjid, M.Ag Selaku Dosen Penguji, yang telah memberikan kemudahan-kemudahan baik berupa moril maupun materiil.
  2. Rekan – rekan mahasiswa Institut PTIQ Jakarta Fakultas Tarbiyah (Program GPAI) tahun 2010 – 2011.
  3. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah memberikan bantuan dalam penulisan makalah ini.
Penulis berharap semoga Allah SWT memberikan imbalan yang setimpal pada mereka yang telah memberikan bantuan, dan dapat menjadikan semua bantuan ini sebagai ibadah, Amiin Yaa Robbal ‘Alamiin.
Jakarta,   Maret 2011

                                                                                    Penulis















Daftar Isi

Kata Pengantar  ………………………………………………………..     1
Daftar Isi ……………………………………………………………….      3
BAB I  PENDAHULUAN  ……………………………………………     4
A.    Latar Belakang  ………………………………………………..        4
BAB II PEMBAHASAN  …………………………………………….       5
A.    Sejarah Masjid, Kuttab dan fungsinya…………………………       5
1.      Sejarah Masjid ………………………………………...        5
2.      Fungsi Masjid  …………………………………………       8
3.      Kuttab dan fungsinya  …………………………………       15
BAB III PENUTUP  ………………………………………………….       20
A.    KESIMPULAN  ………………………………………………        20
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………..       21











BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Islam mengenal lembaga pendidikan semenjak awal turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad SAW di sebuah gua melalui Malaikat Jibril AS. Karena pada hakekatnya proses turunnya atau pemberian wahyu adalah merupakan institusi pendidikan Islam pertama dengan guru besar Nabi Muhammad SAW. Beliau mengumpulkan sekumpulan kecil pengikutnya yang percaya kepadanya untuk belajar Islam secara diam-diam. Di rumah inilah Beliau mengajarkan ayat- ayat Al Qur’an dan membentuk idiologinya sesuai dengan ajaran Islam yang mulia itu.[1]
Institusi-institusi Pendidikan Islam dalam perkembangannya selalu fleksibel, dinamis sesuai dengan waktu dan tempat. Setelah orang Islam hijrah dari Mekah ke Madinah, rumah-rumah Al Qur’an dan rumah-rumah lain sudah tidak lagi memuat kaum muslimin dalam bilangan yang besar. Semenjak itulah masjid-masjid menjadi pusat kehidupan / kegiatan masyarakat.
Masjid sebagai institusi pendidikan kedua setelah rumah-rumah, lalu muncul institusi ketiga yaitu Kuttab dalam pendidikan Islam. Demikianlah selanjutnya institusi pendidikan Islam terus berkembang sesuai dengan dinamika zaman.
Makalah ini mengemukakan sekilas pembahasan tentang Masjid dan Kuttab, dengan pembahasan seputar sejarah Masjid serta makna Kuttab dan fungsinya dalam pendidikan Islam.

BAB II
PEMBAHASAN

  1. SEJARAH MASJID, KUTTAB, DAN FUNGSINYA

1.      Sejarah Masjid.
Peristiwa pendirian Masjid yang pertama mengisyaratkan kepada kita, makna apa yang terkandung dari Masjid itu. Setelah lebih dari 12 tahun menjalankan kerasulannya di Mekah, Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW berhijrah ke Madinah.
Senin 12 Rabiul Awal (28 juli 622 M) Nabi Muhammad meninggalkan Mekah ke Quba, sebelah selatan Yasrib. Dengan hijrah inilah awal perhitungan tahun Islam (kalender Islam) yang berarti periode Islam dalam sejarah umat manusia. Pada hari pertama kedatangan Nabi di Quba beserta rombongannya, apa yang dilakukan ?
Kedatangan Rasul di Madinah disambut oleh masyarakat dengan gembira. Di suatu tempat yang bernama Quba, Rasul dan rombongan Muhajirin beristirahat empat hari yaitu Senin, Selasa, Rabu, dan Kamis. Pada hari pertama beliau dan rombongan membangun sebuah Masjid yang kemudian terkenal dengan nama ³Masjid Quba´ Masjid yang pertama didirikan dalam Islam. Walau bangunannya tidak begitu besar namun arsiteknya menjadi model masjid-masjid yang dibangun kemudian.
Masjid Madinah di jantung kota Yasrib (Madinah sekarang) didirikan pula oleh Rasulullah SAW di atas sebidang tanah anak yatim yang dibelinya. Mula- mula masjid ini didirikan dengan bangunan dari tembok dindingnya batu merah, sementara atapnya dari daun kurma yang dicampur dengan tanah liat.
Di samping masjid dibangun ruang untuk fakir miskin kaum muslimin, masjid diberi dua pintu yaitu pintu Aisyah dan pintu Atiqah´ setelah perang khaibar, Rasul memperbesar masjid ini, lalu berturut-turut diperbesar oleh khalifah Umar dan Usman dengan diperindah menggunakan batu berukir dari batu akik berwarna.
Selain masjid Nabawi, di dalam kota Madinah dan sekitarnya banyak didirikan masjid selama masa permulaan Islam. Masjid-masjid tersebut antara lain : Masjid Al Qiblatain, Masjid Rayah, Masjid Salman, Masjid Sayidina Ali, Masjid Ijabah, Masjid Fatah, Masjid Suqya, Masjid Fadikh, Masjid Bani Quraidah, dan Masjid Afr. Sebagian masjid-masjid tersebut di atas sekarang sudah tidak ada.[2]
Di Mesir pun masjid dibangun di kota Fusthath atas kehendak panglima perang penakluk Mesir yang bernama Amr bin Ash. Masjidnya dinamakan Al Atiq´ dan akhirnya dikenal dengan sebutan Masjid Jami Amr bin Ash´.
Kemudian masjid-masjid di sekitar Mekah, selain Masjidil Haram dengan Ka’bah di dalamnya juga terdapat masjid-masjid yang dibangun pada abad permulaan Islam, diantaranya Masjid Mukhtaba, Masjid Abi Qubais, Masjid Haras, Masjid Al Balah, Masjid Nakar, Masjid Al Kibasyi, Masjid Khaif, Masjid Dab, Masjid Namrah, Masjid Hiyallah, Masjid Ja’ranah, dan Masjid Fathah. Sebagian masjid-masjid ini pun sudah tidak ada lagi.
 Kini telah kita saksikan dimana-mana, disana ada komunitas muslim pasti ada pula Masjid. Sudah jutaan Masjid di seluruh dunia ini, dengan bentuk ornament dan arsitektur yang beragam sesuai budaya muslim setempat dan untuk fungsi yang sama yaitu sujud kepada Allah sebagai refleksi penghambaan seseorang hamba kepada Allah SWT.
Dalam Al Qur’an terdapat beberapa surat atau ayat yang berbicara tentang
Masjid, seperti  :
يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ ﴿٣١﴾
Artinya : “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al A’raf : 31)[3]
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن مَّنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَن يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَىٰ فِي خَرَابِهَا ۚ أُولَـٰئِكَ مَا كَانَ لَهُمْ أَن يَدْخُلُوهَا إِلَّا خَائِفِينَ ۚ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿١١٤﴾
Artinya  : “³Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalanghalangi menyebut nama Allah dalam mesjid-mesjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (mesjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat. ( Q.S. Al Baqarah : 114)[4]

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَـٰئِكَ أَن يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ ﴿١٨﴾
Artinya : “Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S. At Taubah : 18)[5]
وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا ﴿١٨﴾
Artinya : “Dan Sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (Q.S. Al Jin : 18)[6]
2.      Fungsi Masjid.
Pada zaman Rasulullah SAW dan Khulafa Al Rasyidin, Masjid Madinah menjadi kantor besar Negara yang di dalamnya diurus segala urusan pemerintahan. Masjid tidak saja menjadi pusat kehidupan politik, ekonomi, dan sosial. Rasul menerima duta-duta luar negeri di dalam Masjid, sebagaimana mengurus urusan kenegaraan lainnya. Di atas mimbar Rasul sering berpidato mengemukakan urusan politik dan agama.
Rosululloh saw mengajarkan Islam di rumah Arqam bin Arqom, tercatat 40 orang terdiri dari laki-laki dan wanita, dan dari beragam usia mulai dari 8 tahun sampai 50 tahun. Mereka yang dididik Rosululloh di rumah Arqom bin arqom adalah anak-anak yang usianya 8 tahun seperti Ali bin abi Thalib dan Zubair bin Al Awwam, Remaja awal seperti Thalhah bin Ubaidillah (11 tahun) dan Arqam bin Arqam (12 tahun), remaja akhir seperti Saad bin Abi Waqosh (17 tahun) dan Jafar Bin Abi Thalib (18 tahun), dewasa awal seperti Utsman bin Affan (20 tahun), dan Thulaib bin Umair (20 tahun), dewasa akhir seperti Hamzah bin Abi Thalib (42 tahun) dan Ubaidah bin al Harits (50 tahun).Sementara itu dikalangan bangsa arab sendiri pada saat itu telah berkembang model pendidikan kuttab. Di kuttab ini diajarkan baca tulis dengan teks dasar puisi-puisi arab, pengajarannya sendiri berlangsung di rumah para guru.Pasca Islam hijrah ke Madinah, pendidikan model kuttab ini diberlakukan oleh Rosululloh dengan mengambil tempat di mesjid dan rumah guru. Dan fungsi kuttab pun dibagi menjadi dua macam, pertama mengajarkan baca tulis dan kedua mengajar al Qur’an dan dasar-dasar agama Islam. Pada awal pemerintahan Islam di Madinah, pengajar baca tulis di kuttab kebanyakan non muslim, karena sedikit sekali kaum muslim yang bisa menulis. Rosululloh pernah membebaskan para tawanan perang syaratnya mengajari tiap 10 orang muslim membaca dan menulis. Sehingga pada awalnya pengajaran baca-tulis tidak dinukil langsung dari Al Qur’an tetapi dari puisi dan syair bijaksana orang-orang arab. Setelah banyak kaum muslimin yang pandai menulis dan membaca, maka pengajaran baca tulis di kuttab sumber nukil pun tidak lagi puisi dan syair tetapi Al qur’an. Adapun pengajaran al Qur’an dan dasar-dasar Islam di Madinah untuk para shahabat dipegang langsung oleh Rosulloh saw, tetapi untuk penduduk madinah diajarkan oleh Mushab bin Umair. Setelah islam meluas, Rasulullah senantiasa mengutus orang-orang yang kompeten untuk menjadi wali sekaligus mengajarkan al Qur’an pada penduduknya. Maka Rasulloh mengangkat Athab bin Usaid menjadi wali di kota Mekah, Muadz bin Jabal menjadi wali di Yaman, Amru bin Ash menjadi amil di Oman, dan lain-lain.
Kuruikulum pendidikan Islam pada Zaman Rosulloh adalah al Qur’an yang alloh turunkan sesuai kondisi dan situasi, kejadian dan peristiwa yang dialami umat saat itu. Selain itu Rosululloh menyuruh para sahabat memperlajari bahasa Asing. Rosul pernah menyuruh kepada Zaid bin Tsabit, “saya hendak berkirim surat kepada raja Suryani, saya khawatir kalau mereka menambah-nambah atau mengurangi sebab itu engkau memperlajari bahasa Suryani (bahasa Yahudi). Lalu Zaid memperlajari bahasa itu, hingga ia mahir dalam bahasa itu.
Metode pengajaran yang dilakukan oleh Rosululloh sangat bervariatif misalnya ceramah, dialog (ketika Muadz akan dikirim menjadi Gubernur Yaman), tanya jawab (sering para sahabat bertanya tentang suatu hukum dan rosul menjawabnya), diskusi (misalnya diskusi yang terjadi antara Rosululloh dan para sahabat tentang hukuman yang akan diberikan pada tawanan perang Badar), demostrasi, misalnya hadits, “shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku sembahyang” dan metode kisah (misalnya kisah kaum nabi-nabi terdahulu), metafora (umat muslim laksana satu tubuh, bila sakit salah satu anggota tubuh, maka yang lain akan turut sakit), pembiasaan (pembiasaan shalat berjamaah), hafalan, inferensi/prediksi (misalnya kelak umat islam akan seperti sepotong kue yang diperebutkan oleh banyak orang) .
Rasululloh pun melakukan evalusi pengajaran, dengan cara mengevaluasi hapalan para shahabat, menyuruh para shahabat membacakan al qur’an dihadapannya dan membetulkan hapalan dan bacaan yang keliru, dan setiap utusan yang akan dikirim oleh Rosulullah dicek dulu kemampuannya.Misalnya ketika akan mengutus Muadz bi Jabal ke Yaman sebagai qadi, Rosululloh menanyakan bagaimana ia memutuskan suatu perkara yang muncul ditengah-tengah umat. Muadz menjawab, bahwa ia akan memutuskan dengal al qur’an, as sunnah, dan jika tidak didapati di keduanya ia akan berijtihad. Maka Rasululloh pun tersenyum tanya menyetujui dan percaya akan kompetensi Muadz sebagai qadi Yaman.
Demikian pula para khalifah sesudahnya, Masjid jugalah yang menjadi pusat kegiatan ilmu dan kebudayaan Islam. Tidak pernah Masjid memisahkan urusan agama dengan urusan politik[7]
Setelah Masjid Quba (Masjid pertama dalam Islam) selesai dibangun, Rasulullah SAW beserta umat yang ada pada waktu itu langsung mengerjakan shalat. Itulah kegiatan Rasulullah yang pertama dilakukan di dalam Masjid, yaitu : “Wasjud Waqtarib´, yang artinya Sujudlah kepadaTuhan dan Beribadahlah´
كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِب ۩ ﴿١٩﴾
Artinya : “Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan).´ (Q.S. Al Alaq : 19)[8]
Jadi Masjid itu merupakan tempat shalat sehari semalam yang bernilai fardhu.
Pada zaman Daulat Umayah, Masjid dijadikan pusat kehidupan dan kegiatan ilmu. Di Masjid diajarkan segala macam ilmu, terutama sekali ilmu-ilmu keagamaan. Seorang ustadz duduk dalam Masjid dan murid-murid duduk di sekelilingnya mendengarkan ilmu yang disampaikan. Umpamanya : Abdullah bin Abbas duduk dalam pekarangan Ka’bah mengajarkan ilmu tafsir, Rabi’ah duduk mengajar di dalam Masjid dan muridnya, antara lain : Ja’far Al Shadik yang juga mengajar dalam Masjid Basrah, pelajaran yang disampaikannya antara lain tentang kimia.
Para ulama atau ustadz semacam di atas banyak sekali di seluruh kota-kota Islam waktu itu yang menyampaikan pengajarannya di dalam Masjid. Selain Masjid itu digunakan untuk shalat yang lima waktu, juga seminggu sekali digunakan untuk shalat jum’at. Kemudian setahun sekali digunakan untuk shalat Idul Futri dan Idul Adha, bahkan padda bulan Ramadhan digunakan untuk shalat tarawih, baca Qur’an atau Tadarusan, ceramah keagamaan dan kegiatan ibadah lainnya.
Pada waktu di Madinah, Rasulullah SAW sering mendapat wahyu dan menyampaikannya di dalam Masjid,[9] maka di Masjidlah muslim memberi dan menerima Al Dien, bahkan bidang keduniaan pun selama masih dalam lingkungan Islam dapat diajarkan, diterangkan dan diberikan petunjuk dalam Masjid.
Masjid juga dijadikan pusat penerangan masyarakat muslim. Selain dari tugas pendidikan, juga segala yang berhubungan dengan sosial diumumkan di Masjid, misalnya : kematian, pernikahan, dan lain-lainnya.
Selama Rasulullah SAW masih hidup, segala permasalahan ditanyakan di dalam Masjid. Sehingga Rasulullah seakan sebagai sumber rujukan atau perpustakaan, penerangan atau dakwah. Karena selayaknya ada di dalam Masjid, dan disitu pulalah perpustakaan disusun atau disediakan ruang atau tempatnya.
Demikian juga di zaman Rasulullah SAW, Baitul Mal ditempatkan di Masjid, sebagai kas Negara atau kas masyarakat muslim yang dapat menyokong segala sesuatu yang berhubungan dengan kesejahteraan sosial muslim.
Rasulullah SAW pun menyelesaikan sengketa atau perkara pertikaian di dalam Masjid. Masjid dijadikan tempat persidangan soal-soal hukum peradilan. Kaitan dengan strategi perang pun, Rasulullah SAW merencanakannya di Masjid, seakan-akan Masjid itu markas besar tentara.
Pada waktu Khalifah Umar, dewan yang dibentuk dan bertugas memberi nasihat, melakukan siding-sidangnya di Masjid. Demikian pula pada waktu Abu Bakar, beliau menyelesaikan administrasi kenegaraan di Masjid.
Pada zaman Daulah Abbasiyah, Masjid jadi Ma’had ilmu pengetahuan, Masjidlah merupakan gudang sekolah, baik untuk pendidikan rendah ataupun menengah dan tinggi. Contoh : di Masjid Basrah di dalamnya terdapat Halaqah Al Fiqh, Halaqah Al Tafsir Wal Hadits, Halaqah Al Radliat, Halaqah Lissyi’ri Wa Al Adab, dan lain-lain.[10] Banyak orang Islam dari berbagai Negara belajar pada halaqah-halaqah tersebut.
Para sahabat Nabi Saw., yang pandai baca tulis memanfaatkan lembaga kuttab itu untuk keperluan mengajarkan ketrampilan menulis dan membaca ayat-ayat al-Qur'ankepada anak-anak. Dengan demikian,kutt ab di masa awal Islam oleh para sahabat dimanfaatkan untuk mengajarkan tulis baca ayat-ayat al-Qur'an. Dalam kisah diceritakan bahwa Rasullulah SAW. memerintahkan Al-Hakam bin Said untuk mengajarkan al-Quran dan tulis baca pada sebuahkuttab di Madinah. Ini menunjukkan bahwa lembaga pendidikan jeniskuttab ini telah menjadi perhatian Rasulullah untuk menunjang keberhasilan dakwahnya.
Sistem kuttab yang mengajarkan membaca, menulis Al qur’an dan agama islam lainnya tetap dilanjutkan pada zaman Umayyah. Hanya saja tempatnya selain di mesjid dan rumah guru juga diselenggarakan di istana. Kuttab di istana bertujuan mengajarkan anak-anak dari keluarga yang berada di istana Khalifah. Guru istana dinamakan muaddib. Tugas muaddib diungkapkan oleh Abdul Malik bin Marwan, “ajarkan kepada anak-anak itu berkata benar, sebagaimana kau ajarkan al qur’an. Jauhkan anak-anak itu dari pergaulan orang-orang buruk budi, karena mereka amat jahat dan kurang beradab.Jauhkan anak-anak itu dari pemalu, karena pemalu itu merusak mereka.Gunting rambut mereka supaya tebal kuduknya. Beri makan mereka dengan daging supaya kuat tubuhnya. Ajarkan syair kepada mereka, supaya mereka menjadi orang besar dan berani. Suruh mereka menyikat gigi dan minum air dengan menghirup pelan-pelan bukan dengan bersuara, seperti hewan. Kalau engkau hendak mengajarkan adab kepada mereka hendaklah dengan tertutup tiada diketahui oleh siapa pun”. Jadi pendidikan istana mengajarkan al qur’an, hadits, syair, riwayat hukama, menulis, membaca, dan adab sopan santun.
Pendidikan jenis kuttab ini pada mulanya diadakan di rumah-rumah guru. Setelah Nabi Saw. dan para sahabat membangun masjid, barulah adakuttab yang didirikan disamping masjid. Selain itu ada juga kuttab yang didirikan terpisah dari masjid. Masa belajar dikuttab tidak ditentukan, bergantung kepada keadaan si anak. Anak yang cerdas dan rajin, akan lebih cepat menamatkan pelajarannya. Sebaliknya anak yang malas akan memakan waktu yang lama untuk menamatkan pelajarannya. Sistem pengajaran dikuttab ketika itu tidak berkelas. Para murid biasanya duduk bersila dan berkeliling menghadap guru.
Perkembangan lembaga pendidikan jenis kuttab ini sejalan dengan perkembangan dan penyebaran agama Islam. Pada akhir abad pertama Hijriyah mulai berdiri kuttab – kuttab yang tidak hanya mengajarkan tulis-baca al-Qur'an tapi juga pokok-pokok ajaran agama. Kuttab jenis ini sebenarnya merupakan perkembangan dari proses belajar-mengajar di masjid yang sifatnya umum (bukan hanya untuk anak-anak tapi juga untuk orang dewasa, dan tidak hanya mengajarkan baca-tulis al-Quran namun juga ajaran- ajaran Islam). Tapi karena anak-anak tidak bisa menjaga kebersihan dan kesucian masjid maka kemudian mereka dilokalisir di tempat yang khusus di samping masjid dengan materi pengajaran yang sama, yaitu pokok-pokok ajaran Islam. Sejak itu berkembanglah kuttab menjadi lembaga pendidikan Islam yang bersifat formal.
Sampai pada abad ke-2 H, lembaga kuttab ini semakin banyak didirikan oleh kaum Muslimin atas prakarsa mereka sendiri, dalam arti lepas dari campur tangan pemerintah.Di masa ini pula kuttab tersebar merata di setiap negeri, sehingga karakteristik kuttab sebagai lembaga pendidikan yang terbuka sangat menonjol, dalam arti siapa saja bisa memanfaatkannya sebagai sarana untuk menimba ilmu pengetahuan Islam. Orang kaya dan miskin mempunyai kesempatan yang sama untuk belajar dikuttab . Hal ini terjadi karena kuttab tidak dikomersialisasikan. Para pengajar pun pada umumnya tidak mencari penghidupan dikuttab , mereka mengajar secara ikhlas. Memang ada di antara mereka yang menerima upah, tapi umumnya tidak seberapa memberatkan.
Singkatnya, pertumbuhan dan perkembangan lembaga pendidikan model kuttabmengalami kemajuan pesat karena didukung oleh semangat kaum Muslim dalam menyebarkan agama Islam. Sejarah mencatat bahwa tradisi tulis baca di kalangan kaum.
Muslim yang ditanamkan melalui kuttab ini telah berjasa dalam mentransfer berbagai ilmu pengetahuan sehingga generasi Islam berikutnya dapat mengenal ajaran-ajaran Islamsecara lebih baik.
3.      Kuttab Dan Fungsinya.
Kuttab berasal dari Bahasa Arab Katatib yang berarti “Mengajar Menulis´ sejenis tempat belajar yang lahir pada dunia Islam. Pada awalnya Kuttab berfungsi sebagai tempat memberikan pengajaran, menulis, dan membaca pada anak-anak.
Kuttab berarti sekolah permulaan rendah[11]. Sebenarnya sebelum Islam datang, istilah Kuttab itu telah ada, tapi belum dikenal penduduk Mekah. Yang belajar Kuttab diantaranya Sufyan bin Umayah bin Abdul Syam dan Abdul Qois bin Abdul Manaf bin Zuhroh bin Kilab. Keduanya belajar dari Basyir bin Abdul Malik yang datang dari Hirah.
Kuttab pada bentuk awalnya hanya bentuk ruangan rumah seorang guru. Ketika Islam datang orang-orang pandai dikumpulkan oleh Rasulullah untuk mengajarkan membaca dan menulis, selain itu dipekerjakan sebagai penulis wahyu.
Sejalan dengan meluasnya syiar Islam dan banyak orang yang memeluk Islam, pemikiran akan Kuttab dirasa perlu pengembangan. Hal ini mengingat Kuttab-kuttab telah penuh, tak bisa menampung untuk penyelenggaraan membaca dan menulis khususnya bagi anak-anak muslim. Akhirnya didirikanlah Kuttab- kuttab di tempat yang lebih luas, mereka membangunnya di sudut-sudut Masjid, kemudian karena kebutuhan semakin meningkat dikalangan rumah-rumah Rajapun diselenggarakan kegiatan baca tulis untuk melayani putera atau puteri raja sendiri.
Pendidik yang mulai mengembangkan bentuk pengajaran khusus itu kea rah pembentukan Kuttab umum, menurut Ahmad Syalabi ialah Hajajj bin Yusuf as Saqafi (W. 714 H) yang ia sendiri sebagai muaddib yang mengajar anak Sulaiman bin Na’im yang kemudian menjadi Wazir Abdul Malik bin Marwan.[12] Dari awal inilah berkembang Kuttab-kuttab di rumah-rumah raja yang mengajarkan pendidikan umum dan dengan sebutan Kuttab umum. Kalau mulanya Kuttab hanya mengajarkan baca tulis Al Qur’an, selanjutnya dikembangkan dengan sistem kurikulum penambahan mata pelajaran lain (umum) yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat waktu itu.
Lembaga pendidikan dalam Islam yang ketiga adalah Kuttab. Muncul setelah kerajaan Ummayah yang semula pembelajaran itu dilaksanakan di dalam Masjid. Kuttab merupakan suatu keharusan dalam kehidupan masyarakat Islam sebagai sarana bimbingan anak-anak, di tempat khusus, sebab untuk anak-anak jika ditampatkan di Masjid dikhawatirkan merusak Masjid, dan biasanya anak- anak tak dapat memelihara kebersihan. Kuttab (mungkin sama dengan pondok) menyelenggarakan pendidikan dalam sejaran perkembangan Islam.
Dilihat dari fokus kajiannya Kuttab dapat dibedakan dalam dua bentuk, yaitu :
a.       Kuttab berfungsi sebagai tempat pendidikan yang memfokuskan pada baca tulis
b.      Kuttab berfungsi sebagai tempat pendidikan yang mengajarkan Al Quran dan dasar-dasar keagamaan.

Dilihat dari materi yang pengajaran, umumnya Kuttab mengajarkan :
1)      Dilihat dari materi yang pengajaran, umumnya Kuttab mengajarkan.
2)      Pokok-pokok agama Islam, seperti cara berwudlu, shalat, puasa, dan
sebagainya
3)      Menulis
4)      Kisah (riwayat) orang-orang besar Islam
5)      Membaca dan menghafal syair-syair atau natsar-natsar (proza)
6)      Berhitung
7)      Pokok-pokok nahwu dan sharaf ala kadarnya.

Demikianlah rencana pengajaran Kuttab umumnya, tetapi rencana pengajaran itu tidak sama di seluruh Negara Islam, bahkan berlainan di beberapa wilayah. Di Magrib (Maroko) hanya Al Qur’an yang diajarkan kepada anak-anak, serta dipentingkan tulisannya dan tidak dicampurkan dengan yang lain-lainnya, seperti Hadits, Fiqh, Syair atau Natsar. Di Andalusia diajarkan Al Qur’an dan menulis serta dicampur dengan syair, atsar, pokok-pokok nahwu, sharaf, dan tulisan indah. Di Afriqiah (Tunisia), dicampurkan pelajaran Al Qur’an dengan Hadits dan pokok-pokok ilmu agama, tetapi menghafal Al Qur’an amat dipentingkan. Di Timur (Irak dan sekelilingnya) dipentingkan pelajaran Al Qur’an dan bermacam-macam ilmu, serta qaidah-qaidahnya. Tetapi tidak dipentingkan tulisan indah pada Kuttab, hanya cukup tulisan bersahaja.

Menurut keterangan bahwa mata pelajaran pada Kuttab-kuttab terdiri dari
dua macam :
  1. Mata pelajaran wajib
1)      Al Quran
2)      Shalat
3)      Do’a
4)      Sedikit Ilmu Nahwu dan Bahasa Arab
5)      Menulis.
  1. Mata pelajaran tidak wajib (Ikhtiarih)
1)      Berhitung
2)      Semua Ilmu Nahwu dan Bahasa Arab.
3)      Sya’ir
4)      Riwayat/Tarikh Islam.

Bersamaan dengan kemajuan peradaban Islam, pada zaman Abbasiyah lembaga-lembaga pendidikan lain juga muncul, seperti Dar Al Hikmah yang awalnya hanya sebagai lembaga penerjemah. Kemudian khalifah Al Makmun memperbesarnya di Bagdad. Hingga meliputi pendidikan tinggi, disamping Masjid.
Sebelum muncul sistem madrasah (seperti yang difahami sekarang), tidak ada tingkat-tingkat pendidikan tertentu. Tapi hanya satu tingkat yang dimulai dengan Kuttab dan berakhir di Halaqah, juga tidak ada kurikulum dan Ijazah serta gelar.
Keberadaan madrasah di negara yang katanya mayoritas Islam, masih dianggap sebelah mata. Bahkan banyak yang tidak mengerti bahwa madrasah ibtidaiyah, tsnawiyah, dan aliyah termasuk pendidikan formal. Ini semua karena pendidikan islam terlanjur dikerdilkan sejak zaman penjajahan Belanda (kolonialisme klasik) dan mungkin sampai zaman kapitalisme (neo kolonialisme) seperti saat ini. Alasannya cukup sederhana, madrasah identik dengan islam, dan islam mengandung bahaya ideologis. Banyak orang menampikkan islam sebagai ideologis , mereka berdalih islam is moderate…atau islam is only religion…sampai keluarlah kalimat ISLAM YES, PARTAI NO, tapi semua tampikkan itu, makin memperkokoh wajah islam sebagai sebuah ideologis. Maka islam pun dipandang sebagai ancaman bagi ideologis lainnya. Maka jadilah Islam sebagai ancaman bagi kolonialisme apapun bentuknya baik klasik atau pun neo, ataupun metamorfosis lainnya yang berideologi liberalisme, kapitalisme, atau sosialisme.

























BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Kuttab berasal dari Bahasa Arab Katatib yang berarti “Mengajar Menulis´ sejenis tempat belajar yang lahir pada dunia Islam. Pada awalnya Kuttab berfungsi sebagai tempat memberikan pengajaran, menulis, dan membaca pada anak-anak.
Dilihat dari fokus kajiannya Kuttab dapat dibedakan dalam dua bentuk, yaitu :
a.       Kuttab berfungsi sebagai tempat pendidikan yang memfokuskan pada baca tulis
b.      Kuttab berfungsi sebagai tempat pendidikan yang mengajarkan Al Quran dan dasar-dasar keagamaan.

Dilihat dari materi yang pengajaran, umumnya Kuttab mengajarkan :
1)      Dilihat dari materi yang pengajaran, umumnya Kuttab mengajarkan.
2)      Pokok-pokok agama Islam, seperti cara berwudlu, shalat, puasa, dan
sebagainya
3)      Menulis
4)      Kisah (riwayat) orang-orang besar Islam
5)      Membaca dan menghafal syair-syair atau natsar-natsar (proza)
6)      Berhitung
7)      Pokok-pokok nahwu dan sharaf ala kadarnya.
Masjid dan Kuttab adalah sama-sama institusi pendidikan Islam tertua dalam sejarah pendidikan dan peradaban Islam. Walau tidak formal seperti yang kita fahami institusi-institusi pendidikan sekarang, namun dari sanalah lahir para pemikir Islam zaman itu yang terus mengembangkan Islam di muka bumi.

DAFTAR PUSTAKA

Al Hasymi,Sejarah Kebudayaan Islam, Bulan Bintang, Jakarta 1997

Departemen Agama RI, Al Qur’an dan Terjemahannya (revisi terbaru) Penerbit
CV. Asy Syifa, Semarang 1999

Ensiklopedi Islam, PT. Ichtiar Baru van Hoeve, Cetakan ke 10, Jakarta 2002

Hasan Langgulung, Asas-asas Pendidikan Islam, Pustaka Al Husna, Jakarta, 1997

Mahmud Yunus, Kamus Indonesia Arab, PT. Hidakarya Agung, Jakarta 1989

Sidi Gazalba,Masjid Pusat Ibadat dan Kebudayaan Islam, Pustaka Al Husna,
Jakarta, Cetakan keenam, 1994

An Nabhani, T. (2007). Daulah Islamiyah [terjemaahan]. Jakarta: HTI Press. h.16-17.
Hassibuan, Z.E. (2007). Profil Rosulloh sebagai Pendidik Ideal [dalam Sejarah Pendidikan Islam, ed. Nizar, S]. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. h.8.













 

           







































[1] Hasan Langgulung, Asas-asas Pendidikan Islam, Pustaka Al Husna, Jakarta, 1987 hal 110
[2] Al Hasmi,Sejarah Kebudayaan Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1997, hal 146
[3] Departemen Agama RI, Al Qur’an dan terjemahannya (revisi terbaru), CV. Asy Syifa,
Semarang, 1999, hal 225
[4] Ibi d, hal 37
[5] Ibi d, hal 280
[6] Ibi d, hal 985
[7] Al Hasymi,Sejarah Kebudayaan Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1997, hal 146
[8] Ibi d, hal 1080
[9] Sidi Gazalba,Masjid Pusat Ibadah dan Kebudayaan Islam, Pustaka Al Husna, Jakarta, Cetakan
ke 6, 1994, hal 127

[10] Al Hasmi,Sejarah Kebudayaan Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1997, Hal 261
[11] Mahmud Yunus, Kamus Indonesia Arab, PT. Hidakarya Agug, Jakarta, 1989, hal 367
[12] Ensiklopedi Islam, PT. Ichtiar Baru van Hoeve, Cetakan ke 10, Jakarta, 2002

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar